Kucing saya, Molly bukanlah seorang penulis untuk sebuah alasan yang jelas ;) dan dia tidak akan pernah bekerja menjadi penulis ataupun yang lainnya, tapi dia adalah betina yang cerdas dengan banyak talenta dan terkadang itu menjadikan saya bertanya dalam hati, jika ia meniti karir, kira-kira dia akan menjadi seperti apa sih ?
|
Artis ? Ilmuwan ? Presiden ? atau Seekor Pembasmi ? Saya iseng melakukan permainan kuis karir online untuk sekedar mencari tahu
Saya seorang penulis untuk beberapa alasan : Menantang, Menyenangkan dan benar-benar Memuaskan disampin tidak ada seorang pun yang akan membayar saya untuk duduk dibangku dengan menggeluarkan suara lucu seperti hewan peliharaan milik mereka, itupun jika mereka benar-benar manusia ( sebenarnya itu pekerjaan impian saya )
Kucing saya, Molly bukanlah seorang penulis untuk sebuah alasan yang jelas ;) dan dia tidak akan pernah bekerja menjadi penulis ataupun yang lainnya, tapi dia adalah betina yang cerdas dengan banyak talenta dan terkadang itu menjadikan saya bertanya dalam hati, jika ia meniti karir, kira-kira dia akan menjadi seperti apa sih ?
0 Comments
Ibu Diana Anggraini Ramona
Emak atau mbak, takut sama anjing nggak? Saya termasuk yang takut bener sama anjing. Bukan hanya kebayang najisnya. tapi dengar gonggongan anjing tetangga aja sering kaget ‘mak jenggirat’, langsung lompat ke kursi :D
Mas atau bapak gak saya tanya, karena biasanya lebih berani ngadepin anjing, meskipun dalam hati siapa tahu mungkin ada juga yang ‘ndhredeg’ kayak saya :P Nah kalau ketemu anjing di jalanan dan kebetulan ada anjing yang ngikutin, waduh jantung saya deg-degan nggak keruan. Merapal doa sambil gemetaran, juga mempercepat langkah. Itu doa juga kadang jadi maju mundur gak jelas, nyaris lupa doanya. Jangankan anjing, ketemu angsa aja saya ngeper, buru-buru mengambil jalan memutar, takut disosor. Juga kalau ketemu ulat atau ular. Huaaa, bisa kebawa mimpi buruk itu
Jason Frost menyelamatkan kucing pertama
California - Kebayang gak misalnya weekend besok kita berencana mau memancing ditengah danau bersama teman naik perahu dan mengharapkan banyak ikan di musim panas ini tapi tiba-tiba ada mahluk aneh yang mendekat ke perahu kita ?
Disebut aneh karena tidak biasanya kucing yang notabene benci/ takut air itu malah mau memberanikan diri berenang menyeberangi danau sejauh 15 -20 m dari tepian pulau ( daratan yang ada ditengah danau) hanya untuk meminta pertolongan dari perahu yang lewat. Adalah Jason Frost dan Brandon Key, dua orang pemuda yang berasal daari Tim Alabama Adventures yang menyelamatkan 2 ekor kucing ini ( Hm.. berarti mereka bisa adopsi 1 per 1 )
Monumen Patung Hachiko
Tidak banyak yang tahu bahwa Stasiun Shibuya-Tokyo adalah stasiun kereta api komuter tersibuk keempat di Jepang, hal itu lantaran seluruh dunia terlanjur lebih familier mengenalnya sebagai sebuah stasiun tempat berawalnya kisah legendaris Hachiko si Anjing setia pada tahun 1920-an.
Adalah Hidesaburo Ueno seorang Profesor Pertanian di Imperial University Tokyo yang menggunakan stasiun tersebut sebagai tempat untuk pergi dan pulang mengajar. Seekor Anjing jenis Akita yang bernama Hachiko mempunyai kebiasaan untuk menjemput tuannya pulang kerja dengan menunggu dipelataran stasiun setiap malam. Sampai pada bulan Mei 1925 Profesor Ueno pingsan saat memberikan kuliah kemudian meninggal karena pendarahan otak. Terlepas dari kenyataan bahwa tuannya telah pergi dan tidak akan kembali, Hachiko selalu mengulang kebiasaan untuk menunggu tuannya tersebut setiap malam distasiun yang sama selama 9 tahun lamanya hingga akhirnya dia juga ikut menyusul (meninggal). Kisah ini menjadi populer ketika salah seorang mantan mahasiswa Ueno menulis sebuah artikel tentang mereka dengan tema kesetiaan yang diterbitkan oleh sebuah surat kabar di Tokyo.
Keadan Susie
Seorang wanita harus berpisah dengan kucing kesayangannya “Susie” yang berusia 5 tahun karena atas penyakitnya dia divonis oleh dokter bahwa usianya tidak akan lama lagi,
Kemudian wanita tersebut menulis curahan hati dan kenangan-kenangan indah selama bersama Susie kucingnya kedalam sebuah surat untuk ditujukan kepada calon adopternya yang baru, harapannya agar Susie ketika mendapat kesempatan untuk tinggal dilingkungan yang baru dia akan mendapatkan perlakuan yang tidak jauh berbeda dengan sebelumnya Kucing ini dikirim ke Pusat Layanan Hewan dan Adopsi Montgomery ( MCASAC ) yang berada di Maryland oleh seorang pria (kemungkinan anak dari wanita/Ibu tersebut) dan dia mengatakan bahwa kucing tersebut tidak bisa hidup bersamanya karena ada larangan untuk memelihara hewan di tempat tinggalnya ( Apartment ) Sedang Masa Gencatan Senjata
Tatkala mereka sedang tidak akur, aku akan menjadi wasit diantaranya- meskipun aku tahu bahwa mereka sebenarnya adalah couple yang tidak terpisahkan.
"Aku sebal ketika dia mengeong," "Aku muak ketika dia merusak barang-barangku. Aku benci dengan segala tingkahnya " kata suamiku "..dan aku catat kalimatmu ya..," timpalku. Diatas adalah jenis percakapan yang seringkali terjadi saat kami duduk santai disofa berdua, dan seperti yang diduga hal itu akan diakhiri dengan si Molly yang mendadak naik ke atas pangkuan suami saya kemudian meringkuk + mendengkur seolah tanpa bersalah dan tidak mempedulikan suasana yang sedang terjadi.
Aku harus mengeluarkan anjing dan kucing dari rumah dan aku melakukannya secara bertanggung jawab, meskipun setelah itu aku mendapat julukan buruk dari orang-orang, dan itu keliru, Sob !
Aku pernah punya dua ekor kucing dan seekor anjing, tapi sekarang tidak lagi ada dirumah karena Aku sudah memindahkannya ketempat yang baru. Aku tahu apa yang teman-teman pikirkan, tapi hal itu tidak lantas membuatku sebagai pemilik hewan peliharaan yang buruk. Beri waktu pada saya untuk menjelaskannya...
Baru-baru ini, saya telah mendengar percakapan di group milis yang membicarakan tentang perbandingan antara memiliki / mengadopsi anak dibandingkan dengan memelihara kucing serta menganggapnya sebagai bagian dari keluarga.
Saya akan menjelaskan beberapa permasalahan umum yang kerap muncul dari perbandingan diatas sehingga layak untuk kita pelajari, 1. Apakah saya tergolong “orang tua kucing” dan apakah itu hal tersebut buruk? Bagi saya, kucing tetaplah seperti anak-anak. saya mengatakan demikian dengan tanpa banyak konteks didalam membesarkan anak. Untuk saat ini saya memang belum memiliki anak manusia. Tapi saya bisa membayangkan bahwa menjadi orangtua adalah jenis pekerjaan antara menyenangkan dan penuh kerepotan , terkadang perlu pemikiran yang mendalam tapi tak jarang pula kita melakukan “crazy-making” dan saya yakin banyak persamaan lainnya Apakah kucing saya derajatnya akan “kurang” seperti layaknya anak kecil jikalau nanti saya juga mempunyai anak manusia ? Saya tidak akan pernah tahu. Tapi sebelumnya saya ingat pernah berbicara dengan seorang wanita yang memiliki anak-anak (manusia) beserta anjing dan kucingnya. Dia mengatakan bahwa hubungannya dengan binatang itu sama seperti hubungan eratnya dengan anak-anak manusia dan itu tidak berkurang sedikit pun .
Terkadang kita merasa aneh ya, kok tiba-tiba kita merefleksikan kehidupan kita (para catlovers) dengan orang-orang pada umumnya. kita merasa tidak bisa jauh dari binatang berbulu ini, Orang lain bisa saja dengan mudah melenggang "bebas" ketika melalui seekor kucing yang duduk ditepi jalan tanpa pernah berfikir mau mengelusnya seolah berkata " kamu sudah makan belum, hidupmu sudah bahagia belum ? " Hmm..
Terbanyak aku pelihara 11 kucing resque dari jalanan. Umumnya sejak kitten. Berbagai suka duka sudah aku lalui bersama mereka, ada yang kakinya dikaretin kenceng sekali sama anak orang kampung jahat hingga busuk dan bau, ketika anakku temukan langsung aku bawa ke Drh lalu diamputasi, Alhamdulillah sukses. Ada yang dari usia 15 menit sudah ditinggal induknya lalu dibuang orang dari rumahnya (diatas trotoar panas, 3 ekor) dimana induknya itu melahirkan. Meninggal dua karena sakit terlalu parah, tertolong 1 hingga hari ini sehat dan lucu sekali (usianya sekarang sudah 6 bulan) aku kasih nama Acapella.
Bagi sebagian orang, kucing itu binatang peliharaan yang lucu dan menggemaskan. Tapi buat mereka yang tak suka, kucing bisa saja dianggap sebagai hewan pengganggu.
Seperti kucing di kantor saya. Hewan berkaki empat ini hilir-mudik bebas setiap hari di sekitar kantor. Mereka makan, minum, merayu pasangan, dan berkegiatan seksual tanpa malu-malu. Yah, namanya juga kucing. Tak cuma itu. Kucing-kucing yang hidup di sekitar kantor saya pernah memicu kehebohan dan kejengkelan. Saya ingat beberapa insiden di kantor yang ditimbulkan oleh para kucing beberapa tahun yang lalu. Mereka beraksi seenaknya, mengacak-acak meja, bahkan mengencingi sepatu seorang kawan. |





RSS Feed
